Pada
suatu hari, datanglah seorang teman baikku ke rumah. Seperti biasa kita canda
tawa sambil ngopi di teras halaman rumah. Setelah beberapa menit kita ngobrol untuk
memulai percakapan, akhirnya dia membuka tujuan utama dia main kerumah. Dia pun
curhat kepadaku. Saat awal awal awal hendak berangkat kuliah ke tanah
perantauan dia sempat dinasehati oleh orang tua nya, nasehatnya begini “nak,
kamu tinggal di kampong orang harus prihatin. Dengan nasehat itulah ia bener
bener meresapi apa yang dikatakan orang tua nya, akhirnya diapun prihatin
dengan kondisinya. Baru seminggu dia tinggal di tanah orang dia memutuskan
untuk part time sebuah penyedia jasa undangan selama kurang lebih satu setengah
tahun lamanya.
Awalnya
dia memang ngga bercerita ke ayahnya, dia hanya bercerita kepada ibunya karena
niat nya ingin memberi surprise ke ayahnya. Singkat cerita dia akhirnya cerita
ke orang tua nya bahwa ia kuliah sambil part time. Tak disangka, bukan nya
senang karena anak nya bisa prihatin dengan cara bekerja part time untuk
menambah uang saku tetapi dia malah dimarahin habis habisan. Dia sendiri
bingung kenapa bias dimarahin padahal ia tau harus hidup prihatin. Dan akhirnya
dia menafsirkan sendiri bahwa prihatin yang dimaksud oleh orang tua nya adalah
rajin belajar, dan prestasi yang sebaik mungkin. Karena memang sewaktu masih
SDsampai SMK dia termasuk yang berprestasi di sekolahnya. Walaupun sudah
dimarahi oleh ayahnya dia tak kemudian berhenti bekerja part time.
Dia masih
tetap melakukan aktifitas part time nya seperti biasa. Yang menjadikan dia
berhenti part time adalah karena dia sudah tidak bisa handle tugas kuliah nya yang pada saat itu padat padat nya tugas
kuliah. Sejenak kita merenung, dan setelah beberapa menit terdiam karena
merenung akhirnya dia memulai bercerita kembali. Banyak pelajaran yang dia
ambil dari part time itu, salah satu nya adalah ide dia untuk membuka usaha
jasa penyedia undangan itu sendiri. Tidak bermaksud untuk menyaingi mantan bos
nya, tetapi dia berfikir kenapa enggak kita buka sendiri saja, kan kita bisa
membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain di sekitar kita. Selama kurang
lebih 1 tahun ide itu hanya ide tanpa adanya realisasi untuk membukanya, dan
selama 1 tahun itu pulalah ia rajin upgrade
ilmu. Dan pada akhirnya dia ikut sebuah komunitas bisnis di kampus nya. Pilihan
itu tepat karena terasa ada campur Tuhan mempertemukan dia dengan seorang
mentor bisnis online marketing. Si mentor awalnya bertanya, “kamu punya
keahlian apa?” dia jawab “saya bisa bikin undangan”. Dari situlah dia memulai
usaha penyedia jasa undangan dengan cara online. Kenapa dia memilih online
tentu yang pertama karena memang dunia sekarang sudah beralih atau yang biasa
disebut habitual customer. Habitual
customer adalah kebiasaan seseorang dalam berbelanja. Awalnya orang berbelanja
secara konvensional. Tapi sekarang
sudah mulai beralih dari konvensional ke digital. Itulah yang menjadikan bisnis
undangan ini di online kan. Dan hasil nya juga luar biasa, walaupun toko itu
baru dibuka tapi respon masyarakat cukup besar dan potensial. Alasan yang kedua
kenapa online adalah karena untuk membuka usaha secara offline butuh modal yang
cukup besar. Dan kebetulan teman saya itu adalah seorang mahasiswa biasa, bukan
dari kalangan orang berada. Berkat pertemuan di kelas bisnis kampus itulah yang
menjadikan hidup dia lebih berwarna. Itulah curhatan dari teman akrab saya.
Semoga cerita dari teman baikku bisa menginspirasi !!!