Minggu, 09 Juni 2013

Nasehat dari Orang Tua


Pada suatu hari, datanglah seorang teman baikku ke rumah. Seperti biasa kita canda tawa sambil ngopi di teras halaman rumah. Setelah beberapa menit kita ngobrol untuk memulai percakapan, akhirnya dia membuka tujuan utama dia main kerumah. Dia pun curhat kepadaku. Saat awal awal awal hendak berangkat kuliah ke tanah perantauan dia sempat dinasehati oleh orang tua nya, nasehatnya begini “nak, kamu tinggal di kampong orang harus prihatin. Dengan nasehat itulah ia bener bener meresapi apa yang dikatakan orang tua nya, akhirnya diapun prihatin dengan kondisinya. Baru seminggu dia tinggal di tanah orang dia memutuskan untuk part time sebuah penyedia jasa undangan selama kurang lebih satu setengah tahun lamanya.

Awalnya dia memang ngga bercerita ke ayahnya, dia hanya bercerita kepada ibunya karena niat nya ingin memberi surprise ke ayahnya. Singkat cerita dia akhirnya cerita ke orang tua nya bahwa ia kuliah sambil part time. Tak disangka, bukan nya senang karena anak nya bisa prihatin dengan cara bekerja part time untuk menambah uang saku tetapi dia malah dimarahin habis habisan. Dia sendiri bingung kenapa bias dimarahin padahal ia tau harus hidup prihatin. Dan akhirnya dia menafsirkan sendiri bahwa prihatin yang dimaksud oleh orang tua nya adalah rajin belajar, dan prestasi yang sebaik mungkin. Karena memang sewaktu masih SDsampai SMK dia termasuk yang berprestasi di sekolahnya. Walaupun sudah dimarahi oleh ayahnya dia tak kemudian berhenti bekerja part time. 

Dia masih tetap melakukan aktifitas part time nya seperti biasa. Yang menjadikan dia berhenti part time adalah karena dia sudah tidak bisa handle tugas kuliah nya yang pada saat itu padat padat nya tugas kuliah. Sejenak kita merenung, dan setelah beberapa menit terdiam karena merenung akhirnya dia memulai bercerita kembali. Banyak pelajaran yang dia ambil dari part time itu, salah satu nya adalah ide dia untuk membuka usaha jasa penyedia undangan itu sendiri. Tidak bermaksud untuk menyaingi mantan bos nya, tetapi dia berfikir kenapa enggak kita buka sendiri saja, kan kita bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain di sekitar kita. Selama kurang lebih 1 tahun ide itu hanya ide tanpa adanya realisasi untuk membukanya, dan selama 1 tahun itu pulalah ia rajin upgrade ilmu. Dan pada akhirnya dia ikut sebuah komunitas bisnis di kampus nya. Pilihan itu tepat karena terasa ada campur Tuhan mempertemukan dia dengan seorang mentor bisnis online marketing. Si mentor awalnya bertanya, “kamu punya keahlian apa?” dia jawab “saya bisa bikin undangan”. Dari situlah dia memulai usaha penyedia jasa undangan dengan cara online. Kenapa dia memilih online tentu yang pertama karena memang dunia sekarang sudah beralih atau yang biasa disebut habitual customer. Habitual customer adalah kebiasaan seseorang dalam berbelanja. Awalnya orang berbelanja secara konvensional. Tapi sekarang sudah mulai beralih dari konvensional ke digital. Itulah yang menjadikan bisnis undangan ini di online kan. Dan hasil nya juga luar biasa, walaupun toko itu baru dibuka tapi respon masyarakat cukup besar dan potensial. Alasan yang kedua kenapa online adalah karena untuk membuka usaha secara offline butuh modal yang cukup besar. Dan kebetulan teman saya itu adalah seorang mahasiswa biasa, bukan dari kalangan orang berada. Berkat pertemuan di kelas bisnis kampus itulah yang menjadikan hidup dia lebih berwarna. Itulah curhatan dari teman akrab saya. Semoga cerita dari teman baikku bisa menginspirasi !!!

5 komentar:

  1. Nice story!
    Bisa kuliah sambil part time aja udah hebat! Ni di tambah buka bisnis sendiri, jadinya hebat banget. Apa lagi klu kuliahnya tetep OK, ini super duper hebat!

    BalasHapus
  2. kadang niat baik tidak selalu di sambut dengan tanggapan yang baik pula. salut buat teman anda...
    saya jg punya teman yg kisahnya hampir mirip dengan teman anda itu... :)

    BalasHapus
  3. numpang misi gan, hehe
    mantaf lah

    BalasHapus
  4. itulah ujian hidup itulah awal terbukannya pintu2 rezeki, kesuksesan itu harus di perjuangkan, perjuangan bathin dengan tirakat, perjuangan lahir dengan kerja keras, peras kringat, peras air mata. salam pengusaha.

    BalasHapus